Bait #6: Angin



Dua garis itu datang dari arah yang sepenuhnya berbeda. Keduanya membawa cerita, membawa luka, membawa harapan yang tak pernah sempat mereka ucapkan lantang. Perlahan, nyaris tanpa suara, mereka melaju menuju satu titik yang sama—titik singgung yang seakan telah menunggu mereka sejak lama. 

 Saat akhirnya bertemu, ada jeda aneh yang menggantung. Seolah waktu menahan napas. Namun, di balik pertemuan itu, mereka sadar akan satu hal: bahwa titik itu bukan rumah. Bukan tempat untuk selamanya. Hanya persinggahan yang kebetulan mempertemukan dua perjalanan yang letih.

Mereka tahu, cepat atau lambat, langkah mereka harus kembali bergerak. Menjauh. Mencerai. Tidak ada yang pernah bisa menjamin, kalau setelah kepergian itu, mereka akan menemukan titik singgung serupa. 

Berjalan beriringan… siapa pun tahu, tak pernah semudah kedengarannya. Ada hati yang harus selaras, ada arah yang harus sejalan, ada dunia yang harus sama-sama ditanggung.

Akhirnya mereka pergi. Dengan diam yang terlalu padat untuk dijelaskan. Dan takdir—yang sejak awal memperhatikan dari kejauhan—menyunggingkan senyum samar. Seakan berkata, 

“Aku sudah menulis sesuatu untuk kalian. Tunggu saja waktu membacakannya.”

***

Sementara itu, Angan berdiri di tempatnya. Menjadi angan bukanlah perkara sepele. Ia tahu betul bagaimana rasanya terkurung dalam benak seseorang, tanpa pintu, tanpa jendela, hanya imajinasi yang kadang hangat, kadang menyiksa.

Angan tidak pernah ditakdirkan untuk mereka yang banyak bicara. Yang mengaku memilikinya, mengaku mengejarnya, namun tak pernah benar-benar mengambil langkah untuk mendekat. Angan tidak pernah suka dijadikan pajangan dalam janji-janji kosong. Hati kecilnya selalu memohon agar ia berhenti memaksakan diri menjadi tokoh imajiner yang orang lain ciptakan sesuka hati.

Sampai pada suatu hari, Angan merasa cukup. Ia mengembalikan dirinya kepada asalnya—menjadi Angin. Menjadi sesuatu yang tak bisa dikurung, tak bisa dimiliki, tak bisa didikte.

Dan ketika ia menjelma Angin kembali, semesta bersorak kecil. “Angin telah kembali!”, seru mereka. Ia bebas. Ia tidak lagi menunggu di kepala siapa pun.

Sebab menunggu tidak pernah berarti harus kehilangan kebebasan. Angin masih bisa menunggu, masih bisa berharap, masih bisa mencari—tanpa harus menjadi angan yang terperangkap dalam benak seseorang yang tak pernah benar-benar memilihnya.

Angin tetap berjalan. Tetap melintasi dunia. Dan kali ini, ia menunggu di tempat yang luas, lapang, dan tidak lagi mencekik.

 





Comments