Dua garis itu datang dari arah yang sepenuhnya berbeda. Keduanya membawa
cerita, membawa luka, membawa harapan yang tak pernah sempat mereka ucapkan
lantang. Perlahan, nyaris tanpa suara, mereka melaju menuju satu titik yang
sama—titik singgung yang seakan telah menunggu mereka sejak lama.
Saat akhirnya bertemu, ada jeda aneh yang menggantung. Seolah waktu
menahan napas. Namun, di balik pertemuan itu, mereka sadar akan satu hal: bahwa
titik itu bukan rumah. Bukan tempat untuk selamanya. Hanya persinggahan
yang kebetulan mempertemukan dua perjalanan yang letih.
Mereka tahu, cepat atau lambat, langkah mereka harus kembali bergerak.
Menjauh. Mencerai. Tidak ada yang pernah bisa menjamin, kalau setelah
kepergian itu, mereka akan menemukan titik singgung serupa.
Berjalan beriringan… siapa pun tahu, tak pernah semudah kedengarannya.
Ada hati yang harus selaras, ada arah yang harus sejalan, ada dunia yang harus
sama-sama ditanggung.
Akhirnya mereka pergi. Dengan diam yang terlalu padat untuk dijelaskan.
Dan takdir—yang sejak awal memperhatikan dari kejauhan—menyunggingkan senyum
samar. Seakan berkata,
“Aku sudah menulis sesuatu untuk kalian. Tunggu saja waktu membacakannya.”
***
Sementara itu, Angan berdiri di tempatnya. Menjadi angan bukanlah perkara
sepele. Ia tahu betul bagaimana rasanya terkurung dalam benak seseorang, tanpa
pintu, tanpa jendela, hanya imajinasi yang kadang hangat, kadang menyiksa.
Angan tidak pernah ditakdirkan untuk mereka yang banyak bicara. Yang
mengaku memilikinya, mengaku mengejarnya, namun tak pernah benar-benar
mengambil langkah untuk mendekat. Angan tidak pernah suka dijadikan pajangan
dalam janji-janji kosong. Hati kecilnya selalu memohon agar ia berhenti
memaksakan diri menjadi tokoh imajiner yang orang lain ciptakan sesuka hati.
Sampai pada suatu hari, Angan merasa cukup. Ia mengembalikan dirinya
kepada asalnya—menjadi Angin. Menjadi sesuatu yang tak bisa dikurung, tak bisa
dimiliki, tak bisa didikte.
Dan ketika ia menjelma Angin kembali, semesta bersorak kecil. “Angin
telah kembali!”, seru mereka. Ia bebas. Ia tidak lagi menunggu di
kepala siapa pun.
Sebab menunggu tidak pernah berarti harus kehilangan kebebasan.
Angin masih bisa menunggu, masih bisa berharap, masih bisa mencari—tanpa harus
menjadi angan yang terperangkap dalam benak seseorang yang tak pernah
benar-benar memilihnya.
Angin tetap berjalan. Tetap melintasi dunia. Dan kali ini, ia menunggu di
tempat yang luas, lapang, dan tidak lagi mencekik.

Comments
Post a Comment