Bait #3: Mercusuar

“Sebagian orang terlalu mudah ditemukan. Sebagian lagi, hanya bisa ditemukan jika dan hanya jika dia ingin seseorang menemukannya.”
***
Namanya Angan. Setidaknya, begitulah seseorang memanggilnya. Aku mengenalnya dengan cukup baik. Meski kenyataannya, tidak ada seorangpun yang bisa benar-benar mengenalnya.
Dialah Angan, a woman full of paradox.
… dan dia tengah menunggu seseorang.
***
Sore itu di bangku paling sudut di sebuah kedai kopi, aku berbincang dengannya
Seperti biasa, peraturannya sederhana: Menyimak dan disimak
Aku bercerita, dia menyimak, and vice versa.
Hingga saat tiba giliranku menyimak, Angan bercerita perihal sesuatu yang belakangan menyibukkan pikirannya
Sesuatu yang tak pernah dia sangka akan menghampirinya secepat itu
Satu hal yang selama ini selalu diabaikannya
Dia menitipkan beberapa pesan padaku.
Pesan yang entah pada siapa harus aku sampaikan.





“…kelak jika tiba waktunya dia yang aku tunggu mencariku. Aku harap dia tidak kehilangan arah lantas menyerah. Aku harap dia tahu, kemana harus mencari, dimana dia (mungkin) dapat menemukanku.”
“Aku akan selalu ada di sana. Di tempat dimana aku terbiasa menemukanku, dimana aku bebas mengamati (si)apapun, tanpa bisa balas diamati. Bisa jadi puncak sebuah mercusuar, bangku paling sudut di kedai kopi, di balik jendela kamar, atau mungkin…”
Kalimatnya mengambang di udara.
Entahlah, aku tidak begitu memahami apa yang dia bicarakan sore itu
Namun, nada bicara Angan menyiratkan bahwa ada seorang di luar sana yang tengah mengangankannya. Seorang yang tengah mengupayakannya.
“…nampaknya cerita yang kita tunggu-tunggu itu telah sampai prolognya. Kamu tentu paham, ada seribu satu kemungkinan alur cerita yang bisa terjadi dengan prolog seperti itu. Kiranya…alur seperti apa, konflik apa saja, dan akhir yang bagaimana yang telah dipilihkanNya untukmu?” Aku angkat suara, mencoba memecah hening dengan melontarkan sebuah pernyataan, juga pertanyaan (yang kemudian kusadari amatlah retoris).
Dia bergeming. Entah apa yang tengah ada dibenaknya.
Aku memang tidak bisa membaca pikirannya. Tapi seperti yang dari awal kukatakan. Aku mengenalnya, cukup mengenalnya untuk bisa menyadari satu hal yang tergambar jelas di raut wajahnya saat itu: Kebimbangan yang teramat.
***
Aku membuka mata, menyudahi perbincanganku dengannya. Kudapati diriku masih di sana, di bangku paling sudut di sebuah kedai kopi, beratus kilometer jauhnya dari rumah. Menatap bangku di seberang meja yang memang kosong sejak awal perbincangan. Hanya ada aku, dan secangkir kopi panas yang telah dingin, terhidang kaku di hadapanku.

Comments