Selamat datang di Bait Senandika. Seperti
namanya, laman ini memang sengaja dibuat untuk menjadi rumah kedua bagi senandika
dalam diriku. Senandika yang muncul tanpa pandang waktu dan tempat; saat
menyusuri JPO, saat berdiri berdesakan di dalam Transjakarta yang tengah berjuang
membelah kemacetan ibukota, bahkan saat berada dalam jeda ketika mata baru saja
terpejam, menunggu hingga seluruh kesadaran benar-benar lenyap dalam lelap.
Mungkin belum semuanya, beberapa masih terlalu semrawut hingga nampaknya butuh
waktu lebih untuk bisa mengurai kata demi kata dan membuatnya menjadi kalimat
utuh.
Tidak selamanya kegelisahan yang berkecamuk dalam
benakku merupakan hal penting. Beberapa bahkan tidak kuketahui dari mana datangnya. Hal-hal yang secara acak terlintas begitu saja, kapanpun dan di mana pun, selama masih ada celah untuk berpikir. Tidak
selamanya pula yang aku kemukakan benar. Sebagian di antaranya bisa jadi adalah opini subjektif, sebagian lainnya boleh jadi merupakan
hipotesis yang tentu saja masih harus kubuktikan kebenarannya –entah
bagaimana caranya.
Tapi yang pasti, tulisan-tulisan yang kelak akan
memenuhi laman ini (kalau tidak malas) bukan untuk didebat. Aku terbuka bagi segala bentuk diskusi, selama itu bersifat objektif, tapi tidak untuk perdebatan. Tidak suka dan tidak akan pernah suka melibatkan diri dalam debat kusir, kenapa? karena tidak suka dan
tidak mau. Itu saja.
Mari buat kesepakatan: di sini kalian boleh sependapat dengan apa yang kusampaikan, pun boleh tidak, tentu saja. Jujur, aku prihatin
dengan maraknya orang "sakit" yang gemar memaksa orang lain agar satu suara dengan
dirinya belakangan ini. Kenapa kusebut mereka sakit? Ya memangnya orang waras macam apa yang berbondong-bondong membanjiri kolom komentar orang lain yang kadang bahkan tidak mereka kenal. Menghujat yang bersangkutan atas pandangan pribadinya mengenai sesuatu yang mungkin pada saat itu bersebrangan dengan apa yang mereka yakini. Padahal belum tentu juga yang mereka yakini itu benar. Kalaupun benar, "benar" menurut siapa? I mean, instead of doing that shit, why don't they just write down their subjective opinion in their own page?
Di luar hal-hal yang
berkaitan dengan teamwork dalam konteks pekerjaan profesional (yang cenderung memerlukan kesamaan visi, misi, dan
sudut pandang), aku pikir sah-sah
saja bagi setiap individu untuk memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang
lain, meskipun dalam penyampaiannya tentu saja tetap harus mengindahkan etika
dan norma yang berlaku. Bukankah setiap manusia diciptakan unik? Beda persona, beda pendiriannya. Beda mata, beda sudut pandangnya. Beda kepala, beda pula jalan pikirannya.
Aku tidak peduli apakah ada orang yang sudi
meluangkan waktunya untuk membaca semua ini atau tidak. Karena memang bukan
untuk tujuan itu aku menulis. Bukan agar orang membaca tulisanku. Melainkan
untuk mengalihkan sebagian “beban” di kepalaku, memberi ruang bagi senandika baru yang aku tau akan segera datang.
Lebih dari itu, aku hanya berharap laman ini bisa menjadi medium bagiku untuk menilik kembali setiap gagasan dan tanya yang
pernah terlintas, termasuk setiap jawab yang sejauh ini berhasil kukumpulkan, mencari
benang merah di antara semuanya, lantas merangkainya menjadi satu kesatuan cerita
dengan pemahaman yang lebih utuh, harapannya begitu. Karena entah sejak kapan aku percaya bahwa semua
hal di dunia ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Semua. Tanpa kecuali. Benang
merah yang tentu saja perlu upaya yang tidak mudah serta waktu yang tidak
sebentar untuk menemukannya. Even if it's taking me forever to connect the goddamn dots. So what?
Tidak nampak, bukan berarti tidak ada. Kadang kita hanya harus memercayai sesuatu, bahkan ketika kita tidak/belum bisa melihat wujud fisiknya, sesuatu yang kita kenal dengan istilah blind faith.
Tidak bisa, bukan karena mustahil, mungkin kita hanya tidak kuasa. Tapi hal ini bukanlah tentang kuasa atau tidak kuasa. Karena tanpa kita sebut pun, kita paham di tangan siapa kuasa mutlak berada, bukan? Yang jadi masalah di sini adalah:
Sampai sejauh mana kita sebagai makhluk yang berakal –dengan segala limitasi yang melekat pada diri kita– mau berupaya untuk mencapai apa yang kita harapkan?
Lagipula, memangnya untuk apa kita dibiarkan berkeliaran dengan sedemikian bebasnya di kolong langit ini kalau bukan untuk senantiasa belajar
untuk menjadi versi terbaik dari diri kita?
Learning to learn.
Learning to unlearn.

Hi, salam kenal ya.
ReplyDeleteHalo, salam kenal :)
DeleteSenang skali bisa membaca tulisan2 di sini. Likeeee!
ReplyDeleteHehe terimakasiih :)
Delete