Bait #1: Seleksi Alam dan Teh Hitam

“Apa yang kamu harapkan dengan jadi dirimu yang seperti itu?” 
Bertahun-tahun berkawan dengannya dan akhirnya pertanyaan itu kulayangkan juga. Pertanyaan yang sebetulnya sudah lama ingin kutanyakan pada entitas ajaib di depanku ini.
“…Seperti apa?” Jawabnya singkat, fokusnya masih tertuju penuh pada sepiring kentang goreng yang tengah dilahapnya. 
“Sebut saja tampang ngajak ribut pemicu huru hara yang tak pernah terlihat bersahabat itu, belum lagi sikap masabodoh yang mungkin jika dikategorikan sudah masuk dalam tahap unconscious competence. Orang-orangpun akan berpikir dua kali, atau lebih, jika ingin mendekat, bahkan untuk sekedar menyapa walau hanya sepintas lewat. Mungkin takut digigit. Semacam ada sign tak kasatmata berbunyi “Awas, anjing galak!”, terkalung di lehermu. Atau bisa jadi sebetulnya ingin menyapa, mengenal, berkawan, bahkan mungkin lebih dari itu. Hanya saja mereka takut menyapamu duluan. Takut kau abaikan. Hingga akhirnya mengurungkan niatnya. Sadarkah?” tandasku tanpa ampun.
“Lalu? Dimana letak permasalahannya? Menurutku, itu bukan sesuatu yang salah. Bukan sesuatu yang perlu diperbaiki. Sebab yang aku tahu, seleksi alam tidak akan pernah terjadi dalam kondisi yang ideal. Tidak akan terjadi saat yang kau tunjukkan hanya tentang betapa menyenangkan, baik, atau ramahnya dirimu,” tuturnya. Yang justru membuatku bingung hingga membuat suasana hening selama beberapa detik.
***

Akhirnya dia menghentikan aktifitas mengunyahnya. Meneguk lemon squash di gelasnya lalu sedikit mengubah posisi duduknya. Pertanda bahwa topik ini telah menarik perhatiannya…Atau mungkin ia hanya tak tega melihat ekspresi kebingungan kawan baiknya ini. Statistically, peluang kemungkinan kedua terjadi sepertinya lebih besar. Hhhhhh menyebalkan…

“Iya, seleksi alam. Pernah dengar mengenai seleksi alam?”
“Tentu saja pernah. FYI, aku juga pernah makan bangku SD, pernah belajar IPA meskipun tidak terlalu suka,” jawabku, setengah kesal pada diriku sendiri karena tak bisa menebak arah pembicaraan ini.

“Sekarang aku tanya, berapa lama prosesnya berlangsung?” tanyanya kemudian.


“Puluhan tahun…atau…ratusan tahun, mungkin? Tapi apa korelasinya?” tanyaku mulai tak sabar.
“Betul. Intinya: L  a m  a. Dan…tidak ada korelasi. Hanya analogi. Konsep serta mekanismenya serupa, menurutku.”
“Sederhananya, tanpa berbuat apapun, ketika kamu menjalani keseharianmu, dengan atau tanpa kamu sadari, ada proses seleksi yang berlangsung di dalamnya, hingga pada satu titik kamu akan menemukan mereka yang bertahan dan mereka yang pergi. Dalam hal ini, mereka yang bertahan adalah mereka yang tetap tinggal meski telah mereka tahu betapa kacaunya dirimu, tidak banyak jumlahnya, sebab memang itulah fungsinya seleksi. Mereka yang pergi adalah mereka yang selain itu, orang-orang yang tak perlu dibahas lebih jauh…Untuk apa.
Menurutku, selalu menjadi apa yang orang lain harapkan bukanlah sesuatu yang patut dibenarkan. Sebaliknya, menjadi menyebalkan dan menjengkelkan itu penting. Menjadi brengsek sesekali itu perlu. Sekali lagi, itu menurutku. Sebab tanpa itu, kupikir proses seleksi yang tadi kujelaskan bisa jadi akan memakan waktu yang sangat lama.
La  ma.
L     a     m     a.
L          a          m          a.,” ulangnya.


“Dan kita tahu, waktu kita tidak selama itu. 
Lebih dari itu, kita tidak perlu mengorbankan jati diri kita lantas menjadi orang lain hanya demi sebuah penerimaan, kan?

“Tapi kenapa seleksi alam bisa jadi sebegitu pentingnya?” selaku.


“Ada satu fakta klasik yang pastinya sudah terlalu sering kamu dengar:
Usia manusia itu sebentar. Katakanlah dengan teknologi pengobatan yang kian canggih, pola hidup dan pola makan yang baik, serta olah raga teratur… Berapa lama?
Tetap saja. Sebentar. Sungguh.,” ia tertawa kecil. 
“Terlalu sebentar untuk kita habiskan untuk mempedulikan orang-orang yang tidak tepat. Ruang gerak kita terlalu terbatas untuk membersamai terlalu banyak orang. Lagipula, kita dijadikan-Nya bagian dari Bima Sakti ini bukan hanya untuk ituuu.,” lanjutnya. 

“Tugas kita banyak. Daripada sia-siakan waktu untuk orang-orang yang toh pada akhirnya gak bakal stay, bukankah lebih baik jika kita cari beberapa saja yang ‘teruji’, mereka yang memang satu frekuensi dengan kita, untuk kemudian kita ajak belajar bersama. Tentang bagaimana caranya, mempelajari hidup dari kehidupan itu sendiri. Tentang bagaimana menjadi makhluk berakal yang lebih bernilai. Sebab kalau hidup sekadar hidup, bukankah babi di hutan juga hidup? Bukan kataku, itu Buya Hamka yang bilang.,” ujarnya, lagi-lagi diiringi tawa kecil. Ia berhenti sejenak, memberi jeda untukku mencerna semua ucapannya.
***
“Ada satu fakta lagi.,” sambungnya.
“Apa itu?”
“Ironis memang. Tapi walau bagaimanapun, ini tetaplah fakta. Bahwa betapapun kita ingin. Walau bagaimanapun kita coba. Kita tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Tidak dengan segala limitasi yang melekat pada diri kita. Terima saja fakta menyebalkan itu… Dan disitulah seleksi alam tadi andil. 
Dengan itu kita tahu siapa saja orang-orang yang perlu kita bahagiakan. Dengan itu kita tahu, nama-nama mana saja yang perlu kita sisipkan dalam setiap do’a yang kita langitkan.”
“Aku memang tidak bisa selalu membersamai mereka. Tapi mengetahui mereka bahagia dan baik-baik saja, itu cukup. Dan mereka, tidak perlu tahu bahwa aku peduli. Dari seseorang aku belajar bahwa ketika kau peduli terhadap seseorang, orang yang bersangkutan tidak perlu mengetahuinya, cukup kau dan Tuhanmu, yang pada-Nya kau titipkan mereka. Untuk menjaga mereka. Untuk memudahkan segala urusan mereka. Untuk menyayangi mereka seperti mereka menyayangimu. Memohon pada-Nya agar senantiasa melingkupi mereka dengan kebahagiaan. Sesederhana itu. Bagiku cukup.”

“Kau lihat cangkir teh yang dipegang orang itu?”
Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat seorang perempuan seusia kami duduk tidak jauh dari tempat kami. “Iya, lihat.,” jawabku.
“Segala kekacauan yang ada dalam diri kita tak ubahnya polifenol oksidase yang terkandung dalam pucuk-pucuk daun yang dijadikan bahan baku pembuatan teh dalam cangkir itu, sebab tanpa hadirnya, teh di cangkir itu bisa jadi tidak akan ada di sana. Sebagaimana ia berperan sebagai biokatalis dalam proses oksimatis. Kekacauan pada diri seseorang pun menjadi biokatalis dalam proses seleksi yang sedari tadi kita bicarakan.” tuturnya.
Aku mengangguk. Mulai terbiasa dengan analogi-analogi nyeleneh yang dia ciptakan.

“Banyak asumsi yang beredar di masyarakat yang menurutku terlalu digeneralisasi. Salah satunya adalah ketika banyak orang yang memandang bahwa semakin seseorang berada dalam lingkungan yang dikelilingi banyak orang dan sering berkumpul atau bersosialisasi dengan banyak kawan, maka semakin bahagia pula hidupnya.”
“Lantas? Apakah anggapan seperti itu keliru?” tukasku.
“Tidak juga. Namanya saja anggapan. Terserah mereka. Besides, who am I to judge?”


“What I’m trying to say is, 
There’s a special place in my heart for the ones who were with me at my absolute worst and still loved me when I wasn’t very loveable. I am happy with the small circle of people I have in my life right now. And all I have to do, in turn, is to make them even happier than happy. 
Itu saja. Tidak lebih.,” pungkasnya.
Cara berpikir yang aneh. Tapi jujur saja, aku sepakat dengannya. Dan diluar itu semua, ada sesuatu yang tiba-tiba terpikir olehku…

“…You’re not that quiet, you know? You have a lot to say. Someone just has to ask the right questions to make you talk that much… Just like I did.,” ujarku.


Dia tersenyum. Memainkan sedotan di gelasnya sebelum akhirnya meminum habis lemon squash di dalamnya, menyisakan beberapa bongkahan es yang mulai mencair dimakan waktu. “You’re right. I am an open book. I just can’t be read unless someone shows interest in the story… Just like you did.,” timpalnya.


Detik selanjutnya hanya ada hening. Kami terdiam, hanyut dalam pikiran kami masing-masing…

*****

Comments

Post a Comment