Bait #2: Uncertainty

Pernahkah kalian berkhayal bisa melihat masa depan? 
Atau paling tidak, berharap diberi kesempatan barang sebentar untuk mengintip isi dari Lauh Mahfudz
Mengetahui skenario seperti apa yang telah dituliskan-Nya untuk kalian? 
Kalau iya, seberapa sering? 
Aku sering.

Hingga suatu saat aku melihat sekumpulan bocah bermain di sebuah tanah lapang, saling berkejaran.
Begitu naif.
Begitu gembira.
Begitu lepas. 
Tenang dalam ketidakpastian.
Bahagia dalam ketidaktahuan.
Sederhana dalam kehidupan yang dipenuhi hal-hal rumit.



***

Betul juga, pikirku kemudian.
Apa bagusnya mengetahui masa depan?
Meskipun kedengarannya akan lebih mudah menjalani apapun jika sudah tahu jauh sebelumnya, dengan harapan bisa mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh hari. 

Tapi kalaupun hal itu mungkin, maka bersiaplah untuk kehilangan bagian-bagian pentingnya:
Perasaan sukacita, sedih, tertawa, empati.
Perasaan terkejut ketika dihadapkan dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka. 
Euforia ketika pada akhirnya kita mendapatkan apa yang telah lama kita perjuangkan.
Emosi yang kita rasakan ketika kehilangan seseorang/sesuatu secara tiba-tiba. 
Bersiaplah kehilangan semua itu. 
Bersiaplah mengalami mati rasa yang sesungguhnya. 

***

Think about it
Bukankah lebih menyenangkan seperti ini.
Tidak tahu akan bertemu siapa. 
Tidak tahu akan seperti apa. 
Bermain dengan probabilitas tanpa batas.
Menerka, kiranya kehidupan seperti apa yang menunggu di depan sana.
Tidak semua hal di dunia ini harus kita ketahui, kan?
Sebagian di antaranya lebih baik tersimpan sebagai rahasia.
Diketahui hanya oleh Yang Maha Tahu.

Toh, cepat atau lambat kita juga akan tahu.
Tak perlulah berdalih akan siap jika tahu lebih awal.
Lagipula, apa pernah kau merasa siap (siap yang benar-benar siap, tanpa kebingungan atau ketakutan sedikitpun di dalamnya) saat menghadapi sesuatu? Pernahkah? 
Atau jangan-jangan...aku saja yang memang tak pernah siap? (Haha)

***
Mungkin terlalu dini untuk berpostulasi di usiaku yang belum seberapa dan belum tahu apa-apa ini. Tapi sepanjang yang aku amati (dan alami), jalan hidup seseorang jalan hidupku tidak pernah se-lurus dan se-kaku itu, ia senantiasa bermetamorfosis, menjelma sesuatu yang tak pernah kusangka-sangka. Di satu waktu dia menyenangkan, semua terasa begitu lancar dan mudah layaknya kendaraan yang melaju di jalan bebas hambatan. Di lain waktu, dia bisa menjadi begitu rumit dan menyebalkan. Cukup menyebalkan untuk bisa membuatku ingin 'menghilang' ke suatu tempat. Sekadar memberi waktu bagi diri sendiri untuk memutuskan langkah mana yang akan kuambil. 

Pada akhirnya, menurutku, kemampuan berimprovisasi serta adaptabilitas tiap individulah yang akan menentukan apakah seseorang bisa bertahan di tengah lautan ketidakpastian....atau justru tumbang, berlindung di balik kata 'takdir', kalah oleh keadaan.

Dan pada akhirnya, kita akan paham, bahwa 


satu hal yang pasti di dunia ini (selain mati),
adalah ketidakpastian itu sendiri. 


Comments